Selasa, 02 Januari 2018

Karya-karya yang Pernah Saya Buat

1. Berita Masjid
Berita masjid yang pernah saya buat ada 5. Memang sih ada 4 lagi yang belum saya buat. Jujur saja, saya merasa malas mengerjakannya, karena berita-berita masjid yang saya buat tidak pernah dipost ulang di dakwahpos.com. Hehe. Oke, jadi berita-berita yang pernah saya buat untuk tugas Jurnalisme Dakwah antara lain:
a. Mahasiswa UIN Bandung Kelola Masjid Babussalam
b. Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung Jadi Pengisi Majlis Ta’lim Babussalam
c. Dra. Hj. N. Imas Rosyanti, M.Ag : Pribumi adalah Pejuang Indonesia
d. Dra. Hj. N. Imas Rosyanti : Islam sudah Pancasila
e. Pengajian Rutin Masjid Babussalam Rutin Dilaksanakan
2. Opini
Untuk tugas opini, saya membuat 7 opini untuk dikirimkan ke media. Opini-opini tersebut adalah sebagai berikut:
a. Hakikat Kepemimpinan yang Ideal
b. Dampak Negatif dari Pembayaran Tunai di Gerbang Tol
c. Pencegahan dan Penanggulangan Perilaku Buang Sampah Sembarang
d. Olah Raga Sesuai Hoby di Sela Kesibukan
e. Kekerasan dalam Dua Sudut Pandang
d. Dinamika dan Harapan
e. Solusi Menghilangkan Perilaku Kekerasan dalam Rumah Tangga
Satu opini yang saya buat dengan judul Kekerasan Dalam Dua Sudut Pandang alhamdulillah dimuat di Republika. Dan keanehan lagi, opini yang saya buat tidak pernah di post ulang di dakwahpos.com.
3. Video Grafi
Tugas video grafi saya ditugaskan untuk membuat 2 video. Yang pertama video ceramah dari masjid dan yang kedua video ceramah diri sendiri.
https://www.instagram.com/p/BdMe_zmgovT/
https://www.instagram.com/p/BcE_vUXAptf/
4. Cerpen
Cerpen yang saya buat dikumpulkan menjadi satu buku yang digabungkan dengan teman-teman yang lainnya. Judul buku tersebut adalah hati untuk tuhan.

Senin, 01 Januari 2018

Teks Ceramah



Berbakti Kepada Kedua Orang Tua
السلامعليكم ورحمته وبركاته
 ان الححمدلله نحمده ونستعنه ونستغفره ونعوذب الله من شرور انفسن ومن شيات اعملنا من يهد الله فلا مد لا الله فلا يداله فلا هدي له
اشهد ان لا اله الا الله واشهد ان محمد عبد ه ورسوله. ام بعد
قل الله تعالى ف القراء ن الكريم. اعوذ بالله من الشيطا ن الرجيم.
وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلاً كَرِيمًا
Dewasa ini, kita sering terhenyak dengan kondisi masyarakat yang semakin hari sepertinya semakin mengkhawatirkan, baik dari segi sosialnya maupun individual. Banyak kita dapati perkara-perkara yang dulu susah ditemui, sekarang bisa dengan mudah kita temui.
Beberapa hari belakangan kita juga terkejut dengan video seorang anak yang durhaka pada gurunya dan anak yang durhaka pada orangtuanya. Menurut saya ini sudah keterlaluan. Orang-orang seperti ini harus mendapat penanganan khusus agar penyakit seperti ini tidak menyebar.
Hadirin yang dirahmati Allah, Maka dari itu saya akan membahas dalam kultum ini tentang bakti pada orangtua, terutama kepada ibu.
Jika kita menengok dari awal, maka tak akan ada satupun benda di dunia ini yang mampu membayar segala jerih payah seorang ibu. Seorang ibu selalu dalam kondisi kepayahan selama 3 bulan, mempertaruhkan nyawanya agar kita semua dapat terlahir dengan selamat ke dunia, mendidik, mengajari, membimbing kita dari sejak kita masih berada di dalam kandungan hingga ia kehilangan kemampuan. Yang memberikan ASI, merawat kita saat sakit dan berjuta-juta perlakuan ibu yang tak akan mampu dibayangkan oleh mereka yang belum pernah menjadi orang tua. 
Pada surat Al-Isra’ yang telah dibacakan dalam mukaddimah, yang berbunyi :
وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلاً كَرِيمًا
Yang artinya, Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia, dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali jamganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.
Dalam Tafsir Jalalain, dijelaskan bahwa (Dan telah memutuskan) telah memerintagkan (Rabbmu supaya janganlah) lafal allaa berasal dari gabungan antara an dan kaa (kalian menyembah selain Dia dab) hendaklah kalian berbuatbaik (pada ibu bapak kalian dengan sebaik-baiknya) yaitu dengan berbakti kepada keduanya ((Jika salah seorang di antara keduanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu) lafal ahaduhumaa adalah fail (atau kedua-duanya) da menurut suatu qiraat lafal yablughanna dibaca yablughaani dengan demikian bahwa lafal ahaduhumaa menjadi badal daripada alif lafal yablughaani (maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan ah kepada keduanya) dapat dibaca uffin dan uffan; atau uffi dan uffa; lafal ini adalah mashdar yang artinya adalah celaka dan sial (dan janganlah kamu membentak mereka) jangan kamu menghardik keduanya (dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia) perkataan yang baik dan sopan.
Di ayat tersebut dijelaskan bahwa sebab kita harus berbakti pada mereka, mereka sudah susah payah mengurus kita dari semenjak kita berada dalam kandungan, terutama seorang ibu yang mengandung. Kemudian setelah mengandung, beliau rela menyapih kita selam 2 tahun.
Mengurus segala keperluan kita, menenangkan ketika kita rewel, memeriksakan ke dokter ketika kita sakit, mengajari kita dengan ilmu-ilmu tentang kehidupan dan menjaga kita dari segala yang bisa mengancam keselamata anaknya.
Kalau mau dipikir dan direnungi, kurang apa kita? Maka dari itu, tepat kiranya Allah memerintahkan kita untuk berbakti pada orangtua kita dengan sebaik-baik bakti yang bisa kita berikan.
Bagaimana sebenarnya kita diperintahkan dalam memposisikan ayah dan ibu? Apakah kita hanya diperintahkan berbakti pada salah satunya saja? Atau apakah ada yang lebih utama diantara kedua orang yang sangat luar biasa ini?
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan diatas, Rasulullah memberi kita petunjuk untuk menyikapinya. Sabda beliau terekam dalam hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim dalam kitab shahih mereka. Hadist itu berbunyi sepeti ini;
عَنْ اَبِي هُرَيرَةَ رضي الله عنه قال جَاءَ رَجُلٌ الى رسولِ الله صلى الله عليه وسلم فقال يَا رسولَ الله مَنْ اَحَقًّ النّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قال: اُمُّك قال: ثُمَّ مَنْ؟ قال: ثُمَّ اُمُّك قال: ثم من؟ قال :ثم امُّك قال: ثم من؟ قال : ثم اَبُوْكَ (اخرجه البخاري)

Artinya: Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, belia berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’" (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)
Hadist diatas menjelaskan pada kita tentang mana yang lebih berhak atas kasih sayang dan pengabdian kita selaku anak. Dalam hadist dikatakan bahwa yang paling berhak adalah ibu kita. Perbandingannya 3:1. Maka ibu berhak atas pengabdian kita tiga kali lebih baik dibanding ayah kita.
Seorang Imam besar yaitu Imam AL Qurthubi dalam tafsirnya “ Al Jami;il AL Ahkamil Qur’an menjelaskan bahwa ibu memiliki 3 kecintaan dan juga pengorbanan yang membuatnya memiliki kedudukan yang lebih tinggi jika dibandingkan ayah yaitu pengorbanan pada saat ia mengandung, pengorbanan pada saat ia melahirkan dan pada saat ia menyusui.
Pengorbanan yang pertama adalah pengorbanan pada saat ia hamil. Pada saat ia dalam kondisi hamil maka bisa dibilang ia sedang dalam keadaan rapuh. Dan tanpa pernah mengeluh ia akan membawa anaknya dalam perut selama 9 bulan dengan kondisi kepayahan. Terkadang bahkan ia akan rela melakukan apa saja untuk menjaga sang anak agar dapat lahir ke dunia dengan selamat.
Pengorbanan yang kedua adalah pada saat ia melahirkan.  Pada saat seorang ibu melahirkan bayinya, maka yang ia pertaruhkan pada saat itu adalah nyawanya. Bahkan seorang ibu akan rela kehilangan nyawanya, asalkan bayi yang dikandungnya selama ini bisa hidup dengan selamat.
Pengorbanan yang ketiga adalah pada saat menyusui dan juga mendidik. Setelah melahirkan pun ia masih memiliki tanggung jawab untuk menyusui dan mendidik anaknya agar kelak ia akan menjadi anak yang sholeh dan sholehah.
Ketiga pengorbanan inilah yang kemudian menjadikan kedudukan seorang ibu lebih tinggi dibandingkan dengan ayah. Melihat pengorbanan yang seperti itu, tentu kita sebagai seorang anak, tak akan pernah tinggal diam untuk terus berusaha membalas jerih payah ibu, walaupun memang segala apa yang telah kita perbuat tak akan mungkin dapat menggantikan apa yang telah beliau lakukan untuk kita.
Namun, seorang ayah pun jangan sampai dilupakan, karena pengorbanan beliau hanya diketahui oleh dirinya sendiri. Sebab, dia tak ingin terlihat lemah jika ia mendapat kesulitan. Pengorbanan-pengorbanan seorang ayah tak kalah dengan pengorbanan seorang ibu. Ia bekerja keras dari terbit sampai terbenamnya matahari, ia tetap bekerja meslki fisik kadang tak bisa diajal kompromi, ia adalah pelindung keluarga, jika tanpa beliau kita tak akan ada di dunia ini, bahkan ia rela mengorbankan dirinya demi seorang anak, sama seperti pengorbanan seorang ibu.
Bahkan keberhasilah kita hari ini dan kemarin merupakan keberhasilan dan hasil dari pengorbanan orang tua kita, yang dengan susah oayah telah membesarkan dan membimbing kita sehingga kita bisa meraih apa yang kita miliki hari ini.
Hadirin yang dirahmati Allah.
Tidak ada alasan untuk kita untuk tidak berbakti kepada ayah dan ibu kita. Begitu banyak yang mereka korbankan untuk kita, begitu banyak hal yang kita dapatkan dari mereka. Pendidikan yang mereka ajarkan kepada kita sungguh sangat berarti. Darah mereka yang mengalir di tubuh kita, menjadi penguat dan penyegar hidup kita. Kasih sayang yang mereka tumpahkan, telah menjadi butiran-butiran mutiara yang tak ternilai harganya.
Maka dari itu, marilah kita mulai berbakti dan menambah bakti kita kepada orang tua kita, agar kita tidak menjadi anak yang durhaka kepada mereka, dan agar kita mendapat ridho dari Allah, karena sesunggunya ridho Allah terletak pada ridho orang tua, dan murka Allah ada pada kedua orang tua kita.
Akhir kata, mari kita doakan mereka, seseorang yang sangat berharga dalam hidup kita
اَللّهُمَّ اغْفِرْلِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَاكَمَارَبَّيَانِيْ صَغِيْرَا
Ya Allah, ampuni mereka dari segala dosa dan kesalahanya, jadikan seluruh pengorbanannya menjadi butiran ampunan dari ridha-Mu. Beri kami kesempatan untuk berbakti kepada-Mu, kepada kedua orang tua kami, dan kepada guru-guru kami.
Berikan kami keberanian untuk bersimpuh di pangkuannya, untuk meminta maaf dan do’a kedua orang tua kami.
اخرالكلام
با الله تو فق والهدية، والسلام عليكم ورحمةالله وبركاته

Karya-karya yang Pernah Saya Buat

1. Berita Masjid Berita masjid yang pernah saya buat ada 5. Memang sih ada 4 lagi yang belum saya buat. Jujur saja, saya merasa malas menge...